Berita Terupdate: Fakta-Fakta Perubahan Harga BBM

0
61

Berita Terupdate mengenai BBM (Bahan Bakar Minyak). Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berencana mengevaluasi formula pembentuk harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Penugasan jenis Premium dan Solar. Peninjauan tersebut dilakukan supaya bisa mengurangi beban keuangan Pertamina di tengah keputusan pemerintah untuk tidak mengubah harga BBM sampai akhir tahun.

Pasalnya, Harga Premium saat ini Rp6.450 per liter, semestinya dijual dengan harga Rp8.600 dan Solar yang dijual Rp5.150 per liter mestinya dijual sekira Rp8.350 per liter

Tidak adanya perubahan harga hingga akhir tahun nanti mengakibatkan kerugian pada PT Pertamina, inilah fakta-faktanya, seperti dirangkum Okezone Finance, Minggu (22/3/2018).

1. Tidak Alami Kenaikan, Pertamina Merugi

PT Pertamina (Persero) mencatat loss revenue dari hasil jual Premium dan Solar sampai Februari 2018 sebesar Rp3,9 triliun. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya penyesuaian harga BBM sampai 2019.

Dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Direktur Pemasaran Pertamina Muchamad Iskandar mengatakan, perseroan telah mencatat potensi tambahan biaya jual BBM jenis Premium dan Solar sampai Februari 2018.

“Secara formula potensial loss Januari-Februari penugasan Premium dan Solar tidak termasuk JBU (Jenis BBM Umum) di Jawa nilainya Rp3,49 triliun. Ini dua bulan saja, kalau ditambah jual Premium di Jamali mencapai Rp3,9 triliun,” tuturnya Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Direktur Pemasaran Pertamina Muchamad Iskandar, di ruang rapat Komisi VII, Jakarta, Senin (19/3/2018).

Untuk Premium berdasarkan harga dasar Rp8.302 per liter plus 8%, seharusnya harga BBM RON 88 tersebut adalah Rp8.600 per liter untuk periode April hingga Juni.

2. Tidak Hanya Premium, Solar Juga Tidak Alami Kenaikan

PT Pertamina (Persero) meyakinkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa tidak mungkin meraup untung dengan menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Solar dengan harga saat ini Rp5.150 per liter.

Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik mengatakan, memang dalam formula penghitungan BBM ada margin yang ditetapkan. Hanya saja, jika harga minyak mentah mencapai USD60 per barel, maka tidak mungkin menjual Solar bersubsidi dengan harga Rp5.150 per liter.

Dengan subsidi tetap Rp500 per liter, formula 102.30 HIV plus Rp900 per liter, setelah dikurangi subsidi mestinya harga Solar Rp8.350 per liter.

“Saat ini berlaku Rp5.150 per liter, ini sudah termasuk Rp500. Masih ada selisih Rp3.200 per liter,” tuturnya.

3. Ada Tambahan Subsidi

Pemerintah resmi menaikkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar. Jumlah subsidi saat ini menjadi Rp1.000 per liter dari sebelumnya Rp500 per liter.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dari patokan yang ditetapkan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar Rp500 menjadi Rp1.000 per liter. Namun, dengan volume yang bisa dikonsumsi sebanyak 16,32 juta kilo liter (kl).

Sri Mulyani juga menegaskan, dengan penambahan subsidi ini maka akan ada juga penambahan subsidi di APBN 2018. Penambahan diperkirakan sekitar Rp4 triliun sampai Rp5 triliun.

Menurutnya, hal ini dilakukan agar PT Pertamina (Persero) bisa terus menjalankan tugasnya memberikan BBM bersubsidi kepada masyarakat hingga 2019. Pada penghitungan sebelumnya, Sri Mulyani menyatakan akan ada penambahan anggaran subsidi di APBN 2018 sebesar Rp4,1 triliun.

4. Pemerintah Bayar Utang ke Pertamina

Badan Pengawas Keuangan (BPK) menilai pemerintah tidak perlu untuk menunggu hasil audit dari pihak mereka untuk membayar subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) kepada PT Pertamina (Persero). Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai dirinya masih menunggu audit BPK untuk membayarkan utang pemerintah kepada PT Pertamina (Persero)

Ketua BPK Moermahadi Soerja Djanegara mengatakan pemerintah bisa membayarkan utangnya terlebih dahulu ke Pertamina sambil menunggu hasil audit dari pihaknya. Pasalnya, jika menunggu hasil audit dari BPK, utang pemerintah akan terus menumpuk karena subsidi BBM terus berjalan setiap tahunya.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani juga menyatakan, pada tahun 2016, audit BPK menyebutkan jika pemerintah memiliki utang sekitar Rp20 triliun kepada PT Pertamina (Persero). Sementara utama ke PT PLN (Persero) sekitar Rp12 triliun dan subsidi pupuk Rp10 triliun.

5. Harga Premium Tidak Naik, Beda Hal dengan Pertalite

T Pertamina (Persero) kembali melakukan penyesuaian harga terhadap bahan bakar minyak (BBM). Hal ini dilakukan untuk BBM jenis pertalite yang mengalami kenaikan Rp200 per liter.

External Communication Manager Pertamina Arya Paramita mengatakan, penyesuaian harga BBM jenis Pertalite merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik dan pada saat bersamaan nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dollar Amerika.

“Iya ada penyesuaian harga Rp200 per liter,” ungkapnya kepada Okezone, Jakarta, Sabtu (24/3/2018).

6. Faktor Kenaikan Harga BBM

External Communication Manager Pertamina Arya Paramita mengatakan, harga minyak dunia dan rupiah yang menjadi penentu kenaikan harga BBM mengharuskan perubahan harga.

“Saat ini harga minyak mentah sudah hampir menyentuh angka USD65 per barel, ditambah nilai rupiah juga menunjukkan kecenderungan melemah,” jelasnya.

Dia mengatakan, Pertamina sudah berupaya untuk bertahan dengan harga saat ini agar masyarakat tidak terlalu berat. Namun harga bahan baku yang meningkat tajam, mengharuskan kenaikan harga BBM pada konsumen akhir.

Berita Terupdate seputar bisnis bisa dicek yaa..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here