Kebocoran Minyak Pertamina Telah Mencapai 42,34 Ribu Barel

0
79
Pertamina terlengkap di www.kumparan.com
Pertamina terlengkap di www.kumparan.com

PT Pertamina (Persero) menyatakan jumlah tumpahan minyak di laut akibat kebocoran sumur YYA-1 yang berhasil ditangkap mencapai 42,34 ribu barel.

Ketua tim penanganan insiden kebocoran Pertamina, Taufik Adityawarman, mengatakan jumlah tersebut merupakan minyak yang berada di offshore atau laut. Sementara ceceran minyak yang sudah mencapai darat atau onshore yang berhasil ditangkap mencapai 5.747.575 karung.

“Terkait volume minyak yang tertangkap sampai 22 September 42,34 ribu barel,” kata Taufik di kantor pusat Pertamina, Jakarta Pusat, Senin, 23 September 2019.

Terkait dengan pemanfaatan kembali minyak yang telah terkumpul tersebut, Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H Samsu mengatakan hal ini harus dikonsultasikan dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sebab minyak tersebut telah tercampur dengan air.

“Yang 42 ribu tersebut adalah fluida yang masih ada kandungan airnya. Kita libatkan LIPI untuk kalkulasi ulang,” tutur Dharmawan.

Ceceran minyak tersebut saat ini diharapkan sudah tidak terjadi lagi sejalan dengan telah ditutupnya sumber kebocoran. Pertamina menyatakan sumber kebocoran telah berhasil ditutup pada Sabtu, 21 September lalu pukul 10.30 WIB dengan pengeboran relief well yang selama ini dilakukan.

Dharmawan mengatakan Incident Management Team (IMT) berhasil melakukan penetrasi penyumbatan dari relief well ke sumur YYA-1 dari kedalaman 8.964 kaki. Sehingga kedua sumur tersebut terkoneksi.

Taufik mengatakan upaya penutupan ini lebih cepat lima hari dari target. Ia bilang terkoneksinya kedua sumur ini merupakan sebuah tahapan penting dalam upaya mematikan sumur YYA-1.

Lebih lanjut Taufik menambahkan, langkah selanjutnya adalah dilakukan proses Dynamic Killing dengan memompakan lumpur berat untuk melawan tekanan dalam sumur YYA-1, sehingga tercapai keseimbangan dan menyetop aliran minyak dan gas dari sumur tersebut.

Beberapa waktu ke depan masih merupakan masa kritikal karenanya tetap dilakukan monitoring untuk memastikan kestabilan sumur dan memastikan tidak ada fluida yang keluar dari sumur YYA-1. Monitoring dilakukan melalui aerial survey, kamera termal dan untuk di dalam laut menggunakan Remotedly Operated Vehicles (ROV). Bila kondisi dinyatakan stabil maka akan dilakukan tahap selanjutnya yaitu pemompaan semen untuk proses mematikan sumur YYA-1 secara permanen.

“Sehingga dihitung-hitung estimasi pukul 10 pagi pada 1 Oktober sudah terkunci. Artinya kebocoran sudah ditutup permanen,” jelas dia.

Berita TerkiniJokowiPolriPolda Metro JayaTNIKebakaranKecelakaan Lalu LintasPembunuhanPemerkosaanPerampokanPenganiayaanBegalPelecehan SeksualKekerasan AnakGempaGanjil GenapAnies BaswedanJakartaTolPilkada Serentak 2020Ridwan KamilEdy RahmayadiGanjar PranowoKhofifah Indar ParawansaGempa BumiWisataPilkadaPilwakotPilkada 2020Pilpres 2024Kabinet Jokowi Jilid IIMunas GolkarAmandemen UUD 1945Pemilu AS 2020BrexitKPKOTT KPKAntam NovambarSetya NovantoCPNSPertaminaDolar ASRupiahLowongan KerjaHarga EmasSusi PudjiastutiSEA Games 2019Liga InggrisLiga ItaliaLiga EuropaLiga ChampionsPSSICristiano RonaldoMohamed SalahLiga 1Timnas IndonesiaMotoGPValentino RossiMarc MarquezPersib BandungCollection

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here