Kata Ahli Gestur soal Penampilan Jokowi dan Prabowo Saat Debat Capres

0
424
debat capres
debat capres terlengkap di kumparan.com

Debat Capres terkini. Ahli gestur dan psikologi politik Dewi Haroen menilai performa capres Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto dalam debat pertama sebagai bentuk rebranding. Alasannya, Jokowi dan Prabowo pernah berkompetisi pada Pilpres 2014.

“Pertama bahwa ini ada rematch rivalry, sudah 4 tahun lalu dimulai dan dari genderang perang 2014 itu berlanjut sampai sekarang. Tapi sekarang ini kedudukannya beda. Kalau dulu sama-sama merebut (posisi presiden), posisinya sekarang beda. Rematch, yang satu sebagai petahana, dan satu lagi adalah sebagai penantang,” kata Dewi.

“Itu (kondisi) psikologisnya beda sekali, kemudian ini jadi to be continue sequal. Misal kita nonton ‘Game of Throne’, kita pasti berharap dong, dari segi penonton juga harapannya beda. Jadi penonton yang sudah ramai, sudah mindset-nya sudah sekian banyak yang, misalnya petahana, berharap Jokowi udah 4 tahun begini-begini, penampilan pasti begini,” imbuhnya.

Menurut Dewi, sebagai petahana, Jokowi memang harus unggul di debat perdana. Sedangkan, kata Dewi, Prabowo mengambil strategi bermain aman.

Dewi menuturkan, strategi rebranding ini diperlukan agar para pasangan calon tidak kalah dalam pertarungan debat capres.

“Tadi rebranding tadi, Jokowi branding baru, tadi menyerang. Kalau dia petahana dia diserang, dia kalah, dong. Menyerang dengan lebih keras, lebih ofensif. Untuk itu, kenapa Ma’ruf Amin pasif, karena supaya Pak Jokowi terlihat,” tutur Dewi.

“Prabowo sangat menahan diri. Kenapa tidak menyerang? Karena dia main aman, karena dia takut kalau menyerang balik dia kelepasan,” pungkasnya.

Download aplikasi kumparan di App Store atau di Play Store untuk dapatkan berita terkini dan terlengkap seputar news, bola/sports.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here